Persamaan Pada Pokoknya

Pemeriksa merek dalam melaksanakan tugas dan fungsinya untuk menilai apakah terdapat persamaan pada pokoknya di antara merek-merek akan selalu berpedoman pada Undang-undang Merek dan Indikasi Geografis. Pemeriksa inilah yang akan memutuskan menerima atau menolak permohonan pendaftaran merek.
Merek dinilai mempunyai persamaan pada pokoknya apabila unsur pembentuk merek tidak identik dengan merek pihak lain namun ada tambahan atau modifikasi yang membuatnya tampak sedikit berbeda. Merek demikian berpotensi menimbulkan kebingungan atau kekeliruan pada masyarakat mengenai sumber produk. Masyarakat dapat berasumsi bahwa ada keterkaitan antara merek yang satu dengan lainya dan menganggap keduanya bersumber dari pihak yang sama.
Untuk menilai persamaan pada merek, unsur pembentuk merek harus dipertimbangkan secara keseluruhan sebagai satu kesatuan yang utuh tanpa mengadakan pemecahan atas bagian-bagaiannya dari merek tersebut (Putusan Mahkamah Agung RI No 2451/K/Pdt/1987 tanggal 17 Oktober 1997). Penilaian mempertimbangkan unsur fonetik, visual, dan konseptual suatu merek.

1. Persamaan Secara Fonetik.
Persamaan fonetik adalah adanya kesamaan bunyi antara dua atau atau lebih suara dan kerap kali ditemui sebagai varian dari suatu kata. Kesan fonetik secara keseluruhan dipengaruhi oleh jumlah dan urutan suku kata. Ritme dan intonasi berperan penting dalam penentuan persamaan bunyi.  Umumnya persamaan fonetik dapat ditentukan dari bunyi suku kata dan kombinasi yang identik atau mirip.

      a. Unsur Kata
Merek dengan unsur kata dapat terdiri atas satu atau lebih kata. Dalam menentukan ada tidaknya persamaan dengan merek lain, maka harus dipertimbangakan unsur kata mana yang mempunyai daya pembeda tinggi dan dapat berfungsi sebagai identitas produk. Merek kata yang mempunyai perbedaan susunan huruf namun menghasilkan bunyi yang sama atau variannya, dinilai mempunyai persamaan pada pokoknya.

            I. Kata Singkatan
Merek kata yang berupa singkatan ini bukan merupakan singkatan nama lembaga nasional maupun internasional, akan tetapi singkatan yang diciptakan oleh pemohon pendaftaran merek, misalnya:

ACI
Aku Cinta Indonesia

 ≠    Adi Cipta Indah

            II. Kata Slogan
Merek kata slogan harus dicari satu kesatuan dan tidak dipisahkan
sebagai contoh:
 CITY NEVER SLEEP     ≠   CITY
 ≠  NEVER  
 ≠  SLEEP
=  Never Sleep  
=  City Never

            III. Kata Sleng (misspelling)
Merek yang menggunakan kata sleng (ragam bahasa yang tidak resmi/tidak baku), harus dicari kata yang sebenarnya (resmi/baku), karena adanya persamaan bunyi atau persamaan cara pengucapan, misalnya:

  KLEEN     =   KLIN     =    CLEAN
  UP 2 U  =  UP TO YOU 
 =   UP TO U  


            IV. Kata Kombinasi
Kata kombinasi adalah gabungan antara kata dengan kata. Merek  yang menggunakan kata kombinasi dapat pula dibedakan menjadi dua, yakni kata kombinasi yang masing-masing mempunyai arti sendiri-sendiri dan kata kombinasi yang secara keseluruhan membentuk satu arti.
Untuk membandingkan suatu merek yang menggunakan kata kombinasi yang secara keseluruhan membentuk satu arti, apakah mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek yang lain, maka harus dilihat secara satu kesatuan yang utuh dan tidak dipisah-pisahkan (tidak dilihat secara parsial). Akan tetapi apabila merek kombinasi yang diperbandingkan tersebut ada unsur/elemen merek yang dominan, unsur/elemen merek tersebut yang harus diperbandingkan.

Sebagai contoh antara lain kata “KERETA API” tidak sama dengan kata “KERETA KUDA” dan juga tidak sama dengan “NYALA API” ataupun kata “KAPAL API”. Alasannya adalah kedua kata tersebut tidak bisa diartikan satu persatu dan tidak ada kata yang menjadi pokoknya. Memang kalau kita lihat secara sekilas kata “Kereta Api” mempunyai pokok kata “Kereta”, tetapi ternyata tidak demikian, masih banyak jenis kereta yang lain yang secara prinsip tidak sama dengan kereta api.
Lain halnya apabila kata kombinasi itu ditulis dengan format sedemikian rupa sehingga terdapat kata yang nampak ditonjolkan. Dengan demikian kata yang menonjol itu bisa dianggap sebagai pokok dari kata kombinasi tersebut.
Contoh berikut akan menggambarkan hal tersebut:

Untuk dapat menilai suatu merek yang menggunakan kata kombinasi yang masing-masing mempunyai arti sendiri-sendiri, kata demi kata yang ada harus dibandingkan secara sendiri-sendiri.

   GOLD HILL       ≠    GOLD    Keterangan: arti dari kata kombinasi tersebut adalah “Bukit Emas” sehingga kata pokoknya adalah “Bukit” atau “Hill”
  HILL
  BINTANG TIMUR TIMUR Inti dari kata “Bintang Timur” adalah bintang, jadi yang menjadi pokok adalah kata “Bintang”
  = BINTANG   
GAJAH MANGGIS = GAJAH  
  = MANGGIS  
DUREN MANGGIS = DUREN TIGA  

 

       b.  Persamaan Huruf Konsonan
Dalam melakukan pemeriksaan, pemeriksa merek harus memperhatikan huruf konsonan yang mempunyai persamaan bunyi dengan huruf konsonan lainnya, misalnya:
B = D (pada awal dan akhir kata)
Contoh:    BUCATI = DUCCATI    HARSAB = HARSAD
C = K = Q (pada awal dan tengah suku kata)
Contoh:    COCO = KOKO = QOQO
D = T (pada akhir dan tengah kata)
Contoh:    ABBOT = ABOD        BARDLER = BARTLER
F = P = V (pada awal, tengah & akhir suku kata)
Contoh:    FESTA = PESTA = VESTA
        EVA = EFA = EPA
        LOKOMOTIF = LOKOMOTIP = LOKOMOTIV
G = C (pada awal kata)
Contoh:    GUCCI = CUCCI
H diikuti huruf vokal = huruf yang mengikutinya
Contoh:    HAMADATA = AMADATA
J = DJ = Y (pada awal kata)
Contoh:    JOGMAN = DJOGMAN = YOGMAN
J = G (dalam lafal bahasa inggris)
Contoh:    JIORDANO = GIORDANO    GIANT = JIAN
K = Q = C = X (pada awal dan tengah suku kata)
(Pada awal kata)
Contoh:    KAMBARINO = QAMBARINO = CAMBARINO = XAMBARINO
(Pada tengah suku kata)
Contoh:    RATAKOL = RATAQOL = RATACOL = RATAXOL
(Pada akhir suku kata)
Contoh:    HI-TEC = HITEK = HITEQ = HI-TEQUE = HI TEX
L = R (pada awal, tengah suku kata)
Contoh:    ROMBERT = LOMBERT        SAKURA = SAKULA
M = N (pada awal, tengah dan akhir suku kata)
(Pada awal suku kata)
Contoh:    MONALISA = NONALISA
(Pada tengah suku kata)
Contoh:    OMIGAWA = ONIGAWA        KOMICA = KONICA
(Pada akhir suku kata)
Contoh:    KANILON = KANILOM
S = SH = SY = X = Z (pada awal, tengah dan akhir kata)
(Pada awal)
Contoh:    SANADU = SHANADU = SYANADU = XANADU = ZANADU
(Pada tengah suku kata)
Contoh:    HISAR = HISHAR = HIXAR = HISYAR = HIZAR
(Pada akhir suku kata)
Contoh:    LANDOS = LANDOSH = LANDOX = LANDOZ
Y = I (pada awal, tengah dan akhir kata)
(Pada awal suku kata)
Contoh:    ISTEM = YSTEM
(Pada tengah suku kata)
Contoh:    BRYAN = BRIAN
(Pada akhir suku kata)
Contoh:    BUNNY = BUNNI
W = WH (pada awal kata)
Contoh:    WOM = WHOM
Z = J
Contoh:    ZAJIRA = JAJIRA


       c. Persamaan bunyi pada huruf vocal
A = O = U (dalam lafal bahasa inggris)
Contoh:    SAN = SUN = SON
E = I
Contoh:    ESTORINA = ISTORINA = IESTORINA
        MAMEE = MAMI
U = OE
Contoh:    SAMPOERNA = SAMPURNA
O = U
Contoh:    ORTALINE = URTALINE

IPINDO® || SK. Menteri Hukum & HAM Republik Indonesia . No.: M.HH-40.HI.07.01 2011 ||
   081572345669 - call:081222203669

Konsultan HKI Terdaftar

Konsultan HKI Terdaftar

Konsultan HKI Terdaftar.
Nomor: 552
SK. Menteri Hukum & HAM
Republik Indonesia
No.: M.HH-40.HI.07.01 2011

 

Live Chatting

 

Go to top